ACICIS
Universitas Muhammadiyah Malang
ACICIS
Universitas Muhammadiyah Malang

Menjelajah yang Tidak Terjelajah

Author : Administrator | Selasa, 19 Januari 2010 12:37 WIB
Rabu, 17 Juni 2009 | 15:39 WIB,

Mengapa dunia ilmiah di perguruan tinggi, bahkan dengan masa sejarahnya sejak awal abad ke-20, tidak kunjung bisa menghasilkan produk penelitian yang sangat mendasar. Katakanlah seperti hasil penelitian Clifford Geertz tentang klasifikasi santri, priyayi, dan abangan. Di kalangan ilmuwan di kemudian hari, penelitian tahun 1950- an ini nyaris bisa dianggap sebagai buku babon sosiologi Jawa, paling tidak dalam kerangka studi Barat.

Sosiolog Universitas Airlangga, Prof (emeritus) Soetandyo Wignyosoebroto, saat berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan, itu terjadi karena sejak semula perguruan tinggi kita memang tidak dirancang sebagai lembaga penelitian selain untuk mengisi jabatan klerikal di masyarakat, seperti guru, pegawai pemerintah, dan dokter. Kondisi itu tidak berubah sampai kini. Ia mengatakan, tidak akan ada hasil riset yang luar biasa karena sejak awal memang tidak dirancang begitu.

Melalui pernyataan itu, pahamlah kita bagaimana karya-karya penelitian mahasiswa peserta Australia Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS) asal Australia di UMM dapat dimengerti.

Setiap tahun komunitas 21 perguruan tinggi negeri dan swasta di Australia mengirimkan mahasiswa mereka ke Indonesia untuk belajar selama enam bulan di Indonesia. Maka, ini disebut studi in country (berdiam di negara bersangkutan).

Tahun ini ACICIS sudah melintasi waktu sampai 14 tahun, bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan UMM. Selama itu sudah sekitar 900 karya penelitian dibuat. Pekan lalu Rektor UMM Dr Muhadjir Effendy menandatangani perpanjangan kerja sama ini bersama utusan Kedutaan Besar Australia, Steven Barraclough.

Sejumlah judul penelitian yang dikerjakan para mahasiswa setingkat S-1 asal Australia selama studi di Indonesia, dalam hal ini di Malang, amat menarik karena menggambarkan tradisi riset yang kuat dari Australia-tentu mahasiswa di Malang seyogianya tertular.

Sebagai contoh, studi Hannah Al-Rashid, mahasiswa asal Australia, tentang obsesi perempuan Indonesia untuk mendapatkan kulit putih. Judulnya White is Beautiful: Perception of Beauty and The Indonesian Obsession with White Skin. Peneliti ini membongkar pemahaman akan cantik dari rentang zaman raja-raja saat Barat belum memengaruhi (menjajah) Indonesia dengan sumber syair-syair kakawin sampai iklan sabun yang dibintangi Dian Sastro dan Tamara Bleszinsky (penelitian tahun 2007).

Koordinator ACICIS Malang yang juga guru besar FISIP UMM, Prof Dr Mohammad Mas'ud Said, menyatakan kekagumannya akan hasil penelitian mahasiswa asal Australia selama di Indonesia. "Mereka menjelajah kawasan-kawasan tema penelitian yang selama ini nyaris tidak terjelajah," katanya.

Ada juga penelitian tentang praktik prostitusi berkedok warung teh poci di Semarang, Jawa Tengah, dan grup-grup band indie di Malang sebagai sebuah anak kebudayaan. Demikian pula penelitian yang pernah dipaparkan di surat kabar tentang pemikiran standar ganda (bahasa lain kemunafikan) di lingkungan pramuka di Indonesia.

Penelitian Candice Vooles (2006) mempersoalkan kepercayaan akan Nyai Roro Kidul, Ratu Laut Selatan, di kalangan masyarakat Jatim. Peneliti lain, James Welch (2006), mengukur standar keselamatan perusahaan penerbangan di Indonesia setelah deregulasi penerbangan. Anne Dickinson meneliti organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah. Selain itu, penelitian Kim Heriot-Darragh memberikan penjelasan tentang posisi kaum waria yang tidak ditolak, tetapi juga tidak diterima.

Dengan demikian, ACICIS seharusnya merupakan mitra belajar penelitian yang penting. Namun, memang kemudian belum diteliti sejauh mana kedatangan dan pergaulan para mahasiswa Australia ini bisa memengaruhi kualitas penelitian mahasiswa Indonesia. (DODY WISNU PRIBADI) " Dengan demikian, ACICIS seharusnya merupakan mitra belajar penelitian yang penting.  

diakses dari cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/17/15392112/Menjelajah.yang.Tidak.Terjelajah

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image