ACICIS
Universitas Muhammadiyah Malang
ACICIS
Universitas Muhammadiyah Malang

Mahasiswa University Of New South Wales Teliti Perumahan Araya

Author : Administrator | Selasa, 19 Januari 2010 12:52 WIB

 


Program Australian Consortium for In Country Indonesian Studies (ACICIS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sudah menelorkan kurang lebih 158 judul penelitian mahasiswa asing, termasuk enam judul yang kemarin dipresentasikan sebagai prasyarat mendapatkan sertifikasi pengalaman memperdalam studi di Indonesia.

Meski judul yang dipilih tergolong ringan, namun seringkali judul yang dibuat menjadi bahan rujukan penelitian lanjutan oleh para profesor di luar negeri. “Tulisan mahasiswa selalu bikin surprised. Mereka bisa menulis hal yang bagi orang Indonesia sepele. Padahal dari analisa mereka ada sesuatu yang menarik. Karena itu, tulisan mahasiswa ACICIS sering menjadi rujukan profesor di luar negeri,” ungkap Direktur ACICIS UMM Dr M. Masud Said kepada Malang Post, kemarin.

Salah satu judul yang menarik ditulis Jessica Kerr, Mahasiswa University of New South Walles Sidney, berjudul Analisa Komplek Perumahan di Malang. Dua perumahan yang diteliti dan dibandingkan adalah Komplek Araya dan Perumahan Sawojajar. Menurut Jessica, topik ini dipilih karena dia tertarik akan fenomena kehidupan perumahan yang sebagian besar menggambarkan kehidupan individualis, modern dan konsumtif. Padahal masyarakat Indonesia mengedepankan kegotongroyongan.

“Orang Indonesia itu terkenal dengan sifat tolong menolong dan kegotong royongan. Lalu mengapa banyak yang memilih perumahan yang berpotensi membuat mereka menjadi individualis,” ungkapnya seusai presentasi, kemarin.

Dari hasil penelitian yang dilakukan selama hampir dua bulan itu, bule yang mengaku ketagihan lalapan ini menemukan beberapa kesimpulan. Diantaranya, perumahan menjadi pilihan golongan maju karena lingkungan yang dirasa cocok, aman dan nyaman. Selain itu ternyata golongan menengah ke bawah yang ditelitinya di Sawojajar memiliki tingkat interaksi lebih baik dibandingkan di Araya. Hal ini dilihat dengan adanya pertemuan RT yang masih ada di sana. Berbeda dengan di Araya yang penghuninya mayoritas bekerja sepanjang hari dan tidak mengenal tetangganya.

“Akhirnya yang ditemukan adalah semakin kritis seseorang, maka dia cenderung semakin individualis. Tipe perumahan yang dipilih akhirnya disesuaikan dengan karakter yang dimilikinya. Disitulah dia merasa cocok dan nyaman,” ungkapnya. (oci/udi) (Rosida/malangpost)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image