ACICIS
Universitas Muhammadiyah Malang
ACICIS
Universitas Muhammadiyah Malang

Laporan Penelitian Mahasiswa Acicis Angkatan ke-27

Author : Administrator | Selasa, 19 Januari 2010 12:43 WIB
acicis
Pekan terakhir menjelang akhir tahun, ada kegiatan akademik spesial yang berlangsung di kampus III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yaitu presentasi akhir hasil penelitian tiga mahasiswa pertukaran pelajar, yang tergabung dalam program Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (Acicis) angkatan ke-27. Ketiganya bernama Brooke Gabriel Nolan (Curtin University), Katherine Jayne Parsons (Australian National University), dan Catriona Marie Richards (Australian National University).
Didampingi Direktur Acicis Australia, Philip King, P.hD, Direktur Pascasarjana UMM, Dr. Ahmad Habib, M.A., dan Koordintor Acicis UMM, Mas’ud Said, P.hD, ketiga mahasiswi tersebut mempresentasikan hasil temuannya selama enam bulan di lapangan di depan dosen dan mahasiswa.
Brooke Gabriel Nolan, mengangkat masalah Kehidupan Suku Dayak di Kalimantan Tengah dan Proses Upacara Adat Tiwah. Sedangkan Katherine Jayne Parsons, menjabarkan penemuannya setelah meneliti Masa Depan Pramuka di Indonesia. Tidak mau ketinggalan, Catriona Marie Richard, menjelaskan Peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam Pengembangan Anak Jalanan di Kota Malang.
Hasil penelitian riset dan investigasi ketiga mahasiswa tersebut sudah memenuhi unsur genuinitas (keaslian), independensi temuan, serta keanekaragaman corak dan topik penelitian, sebagai syarat menyelesaikan studi di UMM.
Brooke misalnya, dia harus ke wilayah pedalaman Kalimantan Tengah untuk melakukan observasi dan interviu langsung dengan kepala Suku Dayak. Bahkan, Brooke sampai harus bermalam lama dan tidur di rumah tetua suku guna mencari tahu tentang salah satu upacara adat Tiwah. Semua pengorbanan itu tidak sia-sia, karena mahasiswi dari Curtin University, berhasil mengungkap proses pelaksanaan upacara Tiwah, tujuan pelaksanaan, serta dalam rangka dan momen tertentu apa Suku Dayak melaksanakan upacara mistis itu.
Jika berbicara penelitian unik dan lucu adalah Katherine ahlinya. Mahasiswi ANU selama melakukan penelitian mengenakan pakaian pramuka dengan tujuan supaya bisa lebih mendekatkan diri dengan subyek penelitian. Tak hanya itu, Katherine bahkan sampai harus mengikuti berbagai kegiatan gerakan pramuka yang menjadi agenda rutin tahunan. Karena seringnya bersentuhan langsung dengan organisasi pramuka, sekarang Katherine merasa bangga jika memakai baju pramuka.
Hasil penelitiannya sungguh mengejutkan. Meskipun anggota gerakan pramuka masih memiliki nasionalisme tinggi pada bangsa dan negara Indonesia, karena diajarkan bela negara dan sikap kemandirian, disiplin, keberanian. Namun, masuknya budaya pop yang besar telah memengaruhi pengaruh nasionalisme pada anggota pramuka. Dapat dikatakan jika generasi muda sudah mulai terkikis semangat kebanggaannya kepada gerakan pramuka. Dan pramuka tinggal menjadi simbol dan eksistensinya terancam.
Tidak mau ketinggalan, Catriona, berhasil mendapatkan data bahwa peran LSM telah banyak membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan anak jalanan, khususnya yang berada di Kota Malang. Pasalnya, keberadaan LSM, terutama pendidikan, membawa dampak luas bagi anak jalanan yang tidak bisa mengenyam pendidikan formal. Sehingga dengan adanya LSM pendidikan yang dikoorniasi kumpulan mahasiswa, anak-anak putus sekolah yang berada di jalanan tetap bisa mencari uang sambil terus belajar.
Pada dasarnya semua hasil penelitian yang dilakukan mahasiswi Australia itu tidak terlalu mengejutkan. Namun tetap perlu diapresiasi secara khusus. Pasalnya, selama ini kalangan akademik, terutama mahasiswa belum ada yang meneliti bidang masalah itu.

Diakses dari erikpurnama.wordpress.com/2009/01/05/
 
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image