ACICIS
Universitas Muhammadiyah Malang
ACICIS
Universitas Muhammadiyah Malang

Ketagihan, Broke Ikut ACICIS Hingga Tiga Periode di UMM

Author : Administrator | Rabu, 25 Agustus 2010 13:26 WIB

Jika ada mahasiswa asing yang paling ketagihan kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mungkin nama Brooke Nolen bisa dinominasikan. Bagaimana tidak, setelah menambah satu kali periode, dia menambah lagi untuk periode ke tiga semester ini mengikuti program Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS).

Tahun ini kerjasama UMM-ACICIS memasuki periode 31 dan tahun ke-15. Sejak berdirinya ACICIS tahun 1995, ratusan mahasiswa asal Australia, Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat telah menyelesaikan kuliah dan penelitiannya di UMM. Broke sendiri pertama kali mengikuti ACICIS pada tahun 2004 dan kembali ke Indonesia untuk studi di UMM pada periode semester genap 2010 dan semester ganjil 2010/2011 ini.

“Saya sendiri tidak tahu apa yang membuat Broke jatuh cinta sama Indonesia dan UMM, mungkin karena ketagihan dengan studi di sini,” kata direktur ACICIS UMM, Prof. Dr. Masud Said didampingi Residence Directur ACICIS Dr. Philip King, Senin (23/08).

Broke mengaku ketagihan meneliti tentang budaya Indonesia sejak tahun 2004. Waktu itu dia menjadi volunteer guru Bahasa Inggris di Palembang. “Sejak itu saya selalu punya keinginan untuk kembali ke Indonesia,” aku mahasiswa Australian National University ini.

Pengamalan menjadi guru di Indonesia membuat Broke ingin tahu lebih banyak budaya negeri Nusantara ini. Maka berbagai cara ditempuhnya, termasuk aplikasi mengikuti program ACICIS. “UMM sangat membantu saya memberi kesempatan melakukan eksplorasi apa saja tentang Indonesia, jadi saya betah di sini,” lanjutnya. Itulah sebabnya, di kalangan teman-temannya, Broke sering dijuluki sebagai pentolan mahasiswa ACICIS.

Dalam tiga periode studi di UMM, Broke pertama kali mempelajari upacara kematian orang Dayak di Kalimantan Tengah. Kemudian period kedua, dia mengangkat kehidupan nelayan di pulau Rotte, NTT, dan terakhir, rencananya semester ini dia meneliti kehidupan para nelayan Bugis yang pindah ke Muncar, Banyuwangi.

 “Saya ingin tetap tinggal di Indonesia untuk mempelajari budayanya yang luar biasa tanpa harus bekerja ataupun studi. Makanya, saya kembali ke Aussie kemudian saya memilih Indonesian Studies agar bisa kembali kesini,” ungkapnya lebih lanjut.

            Pada semester ini UMM menerima empat mahasiswa ACICIS asal Australia. Selain Broke, tiga nama lainnya adalah Angharad Lodwick, Jessica  Rae dan Zainul Danny Ariefin Fairhead. Nama terakhir ini terdengar aneh untuk nama seorang warga Australia memang dia keturunan Banten-Australia.

            Philip King menjelaskan, Lodwick akan meneliti tentang fenomena tato di Indonesia, Danny tentang industrialisasi di pelabuhan Sunda Kelapa, sedangkan Jessica mengankat taman nasional Jember. Dalam waktu satu semester, penelitian mereka akan dibimbing oleh dosen UMM. Sebelum terjun ke lapangan, mereka dibekali metode penelitian dan pengenalan budaya Indonesia. rwp/nas

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image